Serangan udara yang dilancarkan Israel di Jalur Gaza menewaskan tiga jurnalis, termasuk seorang jurnalis lepas yang kerap berkontribusi untuk Agence France-Presse (AFP). Insiden tersebut terjadi di tengah gencatan senjata yang rapuh dan dimediasi oleh Amerika Serikat, yang sejak 10 Oktober lalu sebagian besar menekan intensitas pertempuran antara Israel dan Hamas, meski kedua pihak saling menuding adanya pelanggaran.

Badan pertahanan sipil Gaza menyebut serangan udara menghantam kawasan Al-Zahra, di barat daya Gaza City. Tiga jurnalis yang tewas diidentifikasi sebagai Mohammed Salah Qashta, Abdul Raouf Shaat, dan Anas Ghneim, sebagaimana dilaporkan Associated Press.
Abdul Raouf Shaat diketahui merupakan jurnalis foto dan video yang sering bekerja untuk AFP. Namun, saat serangan terjadi, ia tidak sedang menjalankan penugasan resmi untuk kantor berita tersebut.
Dalam pernyataan resminya, AFP menyampaikan duka mendalam atas kematian Shaat. Kantor berita itu mengenangnya sebagai rekan yang berhati baik, memiliki selera humor lembut, dan jurnalis yang sangat berdedikasi. AFP juga kembali menegaskan tuntutan agar dilakukan penyelidikan yang penuh dan transparan atas kematian Shaat.
AFP menambahkan, jumlah jurnalis lokal yang tewas di Gaza dalam dua tahun terakhir terus meningkat, sementara jurnalis asing hingga kini masih belum dapat mengakses wilayah tersebut secara bebas.
Sementara itu, militer Israel menyatakan bahwa pasukannya telah “mengidentifikasi sejumlah tersangka yang mengoperasikan drone yang berafiliasi dengan Hamas di Gaza bagian tengah.” Namun, militer tidak memberikan penjelasan rinci terkait dugaan keterkaitan drone tersebut dengan Hamas.
“Karena ancaman yang ditimbulkan drone itu terhadap pasukan, militer Israel secara presisi menyerang para tersangka yang mengoperasikannya,” demikian pernyataan resmi militer, seraya menambahkan bahwa rincian insiden masih dalam proses peninjauan.
Kendaraan Bantuan Jadi Sasaran
Menurut keterangan saksi mata, para jurnalis saat itu tengah menggunakan drone untuk merekam distribusi bantuan kemanusiaan oleh Komite Bantuan Mesir di Gaza. Dalam situasi tersebut, sebuah serangan udara menghantam kendaraan yang mendampingi mereka.
Komite Bantuan Mesir mengonfirmasi bahwa salah satu kendaraan mereka menjadi sasaran serangan Israel dan menyebabkan tiga orang tewas. “Sebuah kendaraan milik Komite Mesir diserang saat menjalankan misi kemanusiaan, yang mengakibatkan gugurnya tiga individu,” ujar juru bicara Komite Bantuan Mesir di Gaza, Mohammed Mansour. Ia menegaskan bahwa seluruh kendaraan komite tersebut jelas menampilkan logo organisasi.
Mansour menuding militer Israel secara kriminal menargetkan kendaraan saat para korban sedang merekam aktivitas bantuan di kamp Netzarim. Rekaman video AFP memperlihatkan kendaraan yang hangus terbakar, dengan sisa-sisa tubuh korban tergeletak di area terbuka.
Kecaman dan Tuduhan Pelanggaran Gencatan Senjata
Hamas mengecam serangan ini dan menyebutnya sebagai eskalasi berbahaya serta pelanggaran terang-terangan terhadap perjanjian gencatan senjata. Serikat Jurnalis Palestina juga mengutuk serangan tersebut, menyatakan bahwa insiden ini merupakan bagian dari kebijakan sistematis dan disengaja untuk menargetkan jurnalis Palestina.
Menurut otoritas kesehatan Gaza, sedikitnya 466 warga Palestina tewas akibat serangan Israel sejak gencatan senjata diberlakukan. Dalam periode yang sama, militer Israel melaporkan tiga tentaranya tewas akibat serangan militan. Otoritas kesehatan Gaza juga mencatat delapan korban tewas lainnya dalam serangan Israel pada Rabu (21/1).
Jurnalis Terus Menjadi Korban
Lembaga pemantau media Reporters Without Borders (RSF) menyatakan kemarahan mendalam atas tewasnya Shaat dan dua jurnalis lainnya. Committee to Protect Journalists (CPJ) juga menyebut pihaknya terkejut dan geram atas kejadian tersebut.
Kepala divisi krisis RSF, Martin Roux, mengatakan bahwa serangan terhadap jurnalis yang dapat dikenali dari peralatan liputan mereka berpotensi mengindikasikan penargetan dan bisa tergolong kejahatan perang. Koordinator program Timur Tengah dan Afrika Utara CPJ, Sara Qudah, menilai bahwa teknologi pengawasan dan penargetan canggih milik Israel membuat klaim salah identifikasi sulit diterima.
RSF mencatat setidaknya 29 jurnalis Palestina tewas di Gaza antara Desember 2024 hingga Desember 2025. Serangan paling mematikan terjadi pada 25 Agustus, ketika serangan “double-tap” menghantam sebuah rumah sakit di Gaza selatan dan menewaskan lima jurnalis, termasuk dua kontributor Reuters dan Associated Press.
Sejak serangan Hamas ke Israel pada Oktober 2023 memicu perang di Gaza, hampir 220 jurnalis dilaporkan tewas akibat serangan Israel. Data RSF menyebut Gaza kini menjadi wilayah paling mematikan di dunia bagi jurnalis.
Militer Israel, di sisi lain, menyatakan bahwa sejumlah jurnalis yang mereka targetkan di Gaza merupakan individu yang berafiliasi dengan kelompok militan Palestina.
Pekan lalu, utusan khusus AS untuk Timur Tengah Steve Witkoff mengumumkan dimulainya fase kedua gencatan senjata di Gaza. Serangan pada Rabu tersebut terjadi hanya beberapa jam setelah kantor Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengumumkan penerimaan undangan untuk bergabung dengan Dewan Perdamaian Gaza yang diprakarsai Presiden AS Donald Trump, sebuah forum yang diklaim bertujuan menyelesaikan berbagai konflik internasional.