Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menjelaskan keputusan penarikan dana senilai Rp 75–76 triliun dari sistem perbankan bukanlah langkah pengurangan likuiditas ekonomi. Dana itu sebelumnya berasal dari total Rp 276 triliun yang ditempatkan pemerintah di sejumlah bank, terutama bank Himbara dan satu bank pembangunan daerah. Penempatan awal dilakukan untuk memperkuat likuiditas perbankan sekaligus mendorong penyaluran kredit ke sektor riil, khususnya pada masa tekanan ekonomi beberapa waktu lalu.

Namun, melihat dinamika kebutuhan fiskal pusat dan daerah, sebagian dana tersebut kemudian ditarik kembali untuk belanja pemerintah, baik di level pusat maupun daerah. Purbaya menekankan bahwa penarikan itu bersifat teknis—bukan berarti uang “hilang” dari sistem—karena langsung digunakan lagi untuk pembayaran program dan kebutuhan belanja negara. Dengan demikian, aliran uang tetap kembali masuk ke roda perekonomian nasional dan daerah.
Tidak Ganggu Uang Beredar, Justru Perkuat Efek Berganda
Dalam pernyataannya di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Jumat (2/1/2026), Purbaya menegaskan bahwa langkah tersebut tidak mengganggu uang yang beredar. Ia menjelaskan bahwa dana yang ditarik langsung dibelanjakan kembali, sehingga tetap masuk ke sistem ekonomi. “Uangnya ditarik dari bank, tapi langsung dibelanjain lagi, jadi tetap muter dan masuk ke sistem perekonomian,” ungkapnya.
Menurutnya, ketika pemerintah melakukan belanja, dampaknya bisa menciptakan multiplier effect, yaitu efek pengganda yang mendorong konsumsi, produksi, dan perputaran ekonomi di berbagai sektor, terutama di daerah. Belanja pemerintah, baik untuk proyek infrastruktur, layanan publik, maupun program daerah, dinilai lebih cepat mengalir ke sektor riil dibanding hanya mengendap sebagai cadangan likuiditas bank.
Purbaya juga menambahkan bahwa dari sisi cost and benefit, kebijakan ini dihitung secara teknokratis. Pemerintah tidak ingin menambah tekanan defisit fiskal, sehingga manfaat ekonomi dari belanja harus jauh lebih besar dari biaya yang dikeluarkan negara. Ia menegaskan bahwa tujuan akhirnya adalah menjaga lapangan kerja di ekosistem otomotif dan manufaktur, sekaligus mendorong ekonomi tumbuh lebih cepat melalui sinkronisasi kebijakan fiskal dan moneter.
Sisa Likuiditas di Bank Masih Rp 201 Triliun
Meski ada penarikan Rp 75 triliun, Purbaya memastikan bahwa Rp 201 triliun masih berada di bank, sehingga fungsi penempatan dana awal tetap berjalan. “Yang Rp 200 triliun-an masih saya taruh di perbankan, jadi itu enggak masalah,” katanya. Artinya, dana SAL yang tersisa tetap menjadi bantalan likuiditas sistem perbankan, terutama untuk menjaga stabilitas kredit dan sektor keuangan.
Sebelumnya, dari Rp 276 triliun dana SAL, pemerintah menempatkannya ke enam bank: Bank Mandiri, BRI, dan BNI masing-masing Rp 80 triliun. BTN Rp 25 triliun, BSI Rp 10 triliun, dan Bank DKI Rp 1 triliun. Kebijakan ini bertujuan untuk menjaga likuiditas perbankan dan mendorong kredit sektor riil. Namun, Purbaya mengakui bahwa hasil pertumbuhan kredit belum optimal, karena sinergi kebijakan moneter dan fiskal masih belum sepenuhnya sinkron, meski kini sudah diperbaiki.
Evaluasi: Pertumbuhan Kredit Masih di Bawah Potensi
Berdasarkan data Bank Indonesia per Oktober 2025, kredit perbankan tumbuh 7,36% secara tahunan (yoy). Angka ini dinilai masih di bawah potensi pertumbuhan yang bisa dicapai jika injeksi likuiditas tersalurkan lebih cepat ke sektor riil. Purbaya sebelumnya memperkirakan laju kredit dan ekonomi bisa lebih kencang, tetapi ada faktor ketidaksinkronan kebijakan pusat dan bank sentral yang baru saja dibereskan.
Meski demikian, Purbaya menilai bahwa belanja pemerintah yang kini menggunakan dana penarikan tersebut dapat memberi dampak lebih luas bagi ekonomi, terutama karena forward-backward linkage industri otomotif dan manufaktur yang besar, melibatkan UMKM, rantai pasok, tenaga kerja, hingga konsumsi daerah. Dengan belanja yang tepat sasaran, uang kembali masuk ke sistem ekonomi dalam bentuk aktivitas yang lebih produktif dan terasa langsung oleh masyarakat.
Refrence : Liputan6