Penggulingan Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, bisa menjadi momen penting bagi industri energi global, terutama bagi perusahaan-perusahaan minyak besar asal Amerika Serikat yang selama ini kehilangan aset bernilai miliaran dolar karena nasionalisasi. Menurut laporan CNBC, Selasa (6/1/2026), Venezuela — dengan cadangan minyak mentah terbesar di dunia sekitar 303 miliar barel atau sekitar 17 persen dari total cadangan global — kembali menarik perhatian investor. Presiden AS Donald Trump secara terbuka menyerukan agar perusahaan minyak besar AS kembali beroperasi di negara Amerika Selatan itu.

Dalam konferensi pers di Mar-a-Lago, Florida, Trump mengatakan bahwa perusahaan-perusahaan minyak terbesar di AS siap menanamkan investasi besar untuk memperbaiki infrastruktur energi Venezuela yang rusak parah setelah bertahun-tahun tertinggal.
“Kita akan mengerahkan perusahaan-perusahaan minyak besar Amerika Serikat—yang terbesar di dunia—untuk masuk, menghabiskan miliaran dolar, memperbaiki infrastruktur yang rusak, terutama infrastruktur minyak,” ujar Trump.
Pernyataan itu muncul hanya beberapa jam setelah pasukan AS menangkap Maduro dan istrinya. Peristiwa ini memicu spekulasi bahwa perubahan rezim akan membuka pintu bagi pemulihan aset minyak yang sebelumnya diambil alih pemerintah Caracas.
Reaksi Pasar dan Pemulihan Aset
Reaksi pasar terhadap pernyataan Trump terlihat positif. Harga saham perusahaan minyak besar seperti Chevron, Exxon Mobil, dan ConocoPhillips naik, mencerminkan optimisme investor terhadap kemungkinan bisnis di Venezuela.
Selama bertahun-tahun, ketiga perusahaan ini terdampak kebijakan nasionalisasi yang dimulai pada 2007 di bawah mendiang Presiden Hugo Chavez. Kebijakan itu membuat mereka dipaksa keluar dari proyek-proyek penting di Sabuk Orinoco.
Namun, analis menilai bahwa kembalinya investasi besar dari AS tidak akan terjadi seketika. Stabilitas politik Venezuela, kepastian hukum, serta penyelesaian klaim arbitrase bernilai miliaran dolar masih menjadi tantangan besar sebelum modal besar benar-benar mengalir kembali ke negara itu.

Peluang Besar di Tengah Produksi Minyak yang Menurun
Produksi minyak Venezuela pernah mencapai puncaknya sekitar 3,5 juta barel per hari pada akhir 1990-an. Namun kini, menurut data dari konsultan energi, produksi hanya sekitar 800 ribu barel per hari. Penurunan drastis ini disebabkan oleh minimnya investasi, sanksi internasional, dan kerusakan infrastruktur yang luas.
Mayoritas cadangan minyak Venezuela berada di Sabuk Orinoco dan terdiri dari minyak mentah ekstra berat yang butuh teknologi dan modal besar untuk diekstraksi. Kondisi ini memberi peluang besar bagi perusahaan minyak internasional yang memiliki kemampuan teknis tinggi.
Chevron Paling Siap, Exxon & Conoco Selesaikan Klaim
Di antara perusahaan AS, Chevron dianggap paling siap untuk meningkatkan produksi dalam waktu relatif cepat. Chevron adalah satu-satunya raksasa migas AS yang masih beroperasi di Venezuela melalui usaha patungan dengan perusahaan minyak negara PDVSA. Pada akhir 2025, Chevron tercatat mengekspor sekitar 140 ribu barel per hari dari Venezuela.
Perusahaan ini menguasai sekitar 23 persen produksi minyak Venezuela melalui beberapa joint venture. Meski demikian, Chevron menegaskan bahwa keselamatan karyawan dan kepatuhan pada hukum internasional tetap jadi prioritas di tengah situasi yang masih dinamis.
Sementara itu, Exxon Mobil dan ConocoPhillips masih memiliki klaim arbitrase besar yang belum terselesaikan. Conoco dilaporkan memiliki klaim mendekati USD 10 miliar terkait nasionalisasi asetnya, sedangkan Exxon mengklaim sekitar USD 2 miliar. Kedua perusahaan ini masih memantau situasi dan menilai terlalu dini untuk menentukan langkah investasi ke depan.
Tantangan Keamanan dan Infrastruktur
Para analis memperkirakan dibutuhkan sekitar USD 10 miliar per tahun untuk memulihkan industri minyak Venezuela. Selain investasi besar, stabilitas keamanan juga menjadi syarat penting. Tanpa transisi politik yang tertib, proses pemulihan bisa berakhir kacau seperti yang terjadi di beberapa negara lain yang mengalami krisis energi dan politik.
Meskipun penuh tantangan, perubahan rezim di Venezuela dilihat sebagai peluang besar bagi industri energi global. Bagi perusahaan minyak AS, ini bisa berarti kesempatan untuk mendapatkan kembali aset dan posisi di salah satu negara dengan cadangan minyak terbesar di dunia.