Pesawat yang membawa Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan istrinya, Cilia Flores, telah mendarat di pangkalan militer di New York, setelah mereka ditangkap dalam sebuah operasi militer besar yang dipimpin Amerika Serikat pada Sabtu (3/1) dini hari waktu setempat, menurut laporan media lokal.

Kabar ini memicu gejolak politik internasional. Wakil Presiden Venezuela, Delcy Rodriguez, menuntut pembebasan segera pasangan itu selama sidang Dewan Pertahanan Nasional yang ditayangkan di televisi negara. Dia menegaskan bahwa Nicolas Maduro adalah “satu-satunya presiden” yang sah bagi Venezuela.
Serangan besar-besaran AS terhadap Venezuela dan penangkapan Nicolas Maduro menuai kecaman dari berbagai negara. Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengumumkan akan mengadakan rapat darurat pada Senin (5/1) untuk membahas operasi yang berlangsung di negara Amerika Selatan tersebut.
Trump: AS Akan Ambil Alih Cadangan Minyak Venezuela
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan negaranya akan mengambil alih cadangan minyak Venezuela dan membuka peluang investasi dari perusahaan energi AS bernilai miliaran dolar untuk memperbaiki industri minyak negara itu. Pernyataan itu disampaikan Trump pada konferensi pers di Mar-a-Lago pada Sabtu, di tengah gejolak politik yang terjadi di Venezuela.
Trump juga menyatakan bahwa Amerika Serikat akan sementara waktu membantu mengelola pemerintahan Venezuela setelah penangkapan Nicolas Maduro dan Flores. Ia menjelaskan bahwa perusahaan-perusahaan minyak besar AS akan masuk, memperbaiki infrastruktur minyak yang rusak, dan memulihkan produksi yang selama ini mengalami penurunan tajam.
Realitas Cadangan dan Produksi Minyak Venezuela
Menurut data dari US Energy Information Administration (EIA), Venezuela memiliki sekitar 303 miliar barel cadangan minyak mentah, yang setara dengan sekitar seperlima dari total cadangan minyak dunia. Meski potensi ini besar, produksi aktual negara itu jauh di bawah kapasitas tersebut.
Saat ini Venezuela hanya memproduksi sekitar 1 juta barel per hari, sekitar 0,8 persen dari produksi minyak global. Angka ini kurang dari setengah produksi sebelum Nicolas Maduro berkuasa pada 2013, dan jauh di bawah level sebelum rezim sosialis menguasai industri energi.

Penurunan produksi ini dipicu oleh berbagai faktor, termasuk sanksi internasional, krisis ekonomi panjang, kurangnya investasi, serta infrastruktur yang menua. Perusahaan minyak milik negara, PDVSA, bahkan mengakui bahwa jaringan pipa utama belum diperbarui selama hampir 50 tahun, dan biaya untuk memulihkan kapasitas puncak diperkirakan mencapai USD 58 miliar.
Minyak Venezuela: Peran dalam Pasar Global
Minyak Venezuela dikenal sebagai heavy sour crude, jenis minyak berat yang memerlukan teknologi khusus untuk diproses. Banyak kilang besar di dunia memiliki kemampuan memproses jenis minyak ini, namun dalam beberapa tahun terakhir pembatasan operasional dan sanksi membuat akses terhadap minyak Venezuela semakin terbatas.
Sebaliknya, kilang-kilang di Amerika Serikat lebih banyak mengolah light sweet crude, yang cocok untuk bensin, tetapi kurang ideal untuk bahan bakar industri berat seperti diesel atau aspal. Kebutuhan global terhadap minyak berat semakin penting karena pasokan diesel dunia saat ini terbilang ketat, sebagian akibat sanksi terhadap minyak Venezuela.
Analis pasar Phil Flynn menyebut bahwa jika akses terhadap cadangan minyak Venezuela dibuka kembali dan perusahaan-perusahaan besar AS dilibatkan dalam perbaikan infrastruktur, hal itu bisa membentuk ulang pasar minyak global. Flynn juga menyatakan bahwa industri minyak Venezuela telah mengalami hilangnya potensi produksi akibat kesalahan kebijakan dan kurangnya investasi selama beberapa dekade.
Trump menyebut bisnis minyak Venezuela sebagai “kegagalan total”, menunjukkan bahwa produksi saat ini jauh di bawah potensi yang seharusnya.
Dampak Politik dan Ekonomi yang Lebih Luas
Penangkapan Nicolas Maduro dan pernyataan Trump tentang pengelolaan cadangan minyak Venezuela memicu reaksi luas di dunia internasional. Banyak negara mengkritik tindakan AS, sementara PBB memanggil sidang darurat untuk membahas implikasi keamanan dan hukum dari operasi militer tersebut.
Pernyataan Trump menunjukkan bahwa selain aspek militer dan politik, ada juga fokus pada aspek ekonomi dan energi, terutama terhadap cadangan minyak di Venezuela, yang menjadi salah satu yang terbesar di dunia. Keputusan ini diperkirakan akan berdampak jangka panjang terhadap hubungan AS dengan negara-negara lain, dan mungkin juga memengaruhi geopolitik energi secara global.