
Pergerakan nilai tukar rupiah diperkirakan masih belum lepas dari tekanan dalam waktu dekat. Ketidakpastian global dan domestik membuat mata uang Garuda diprediksi tetap berada di kisaran Rp 17.000 per dolar AS.
Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, menilai rupiah masih berpotensi bergerak di level Rp 17.000-an. Meski demikian, ia berharap nilai tukar rupiah tetap mampu bertahan di bawah Rp 17.500 per dolar AS agar tidak memicu kekhawatiran berlebihan di pasar.
Menurut Josua, menjaga rupiah agar tidak melemah terlalu dalam menjadi penting untuk mencegah munculnya ekspektasi negatif. Jika pasar mulai panik, tekanan terhadap rupiah bisa semakin besar.
Rupiah Berpeluang Lebih Kuat Secara Teori
Josua menjelaskan bahwa secara teori, rupiah sebenarnya memiliki ruang untuk bergerak lebih kuat. Dalam kondisi normal, nilai tukar rupiah berdasarkan real effective exchange rate dinilai berpotensi berada di bawah Rp 17.000 per dolar AS.
Namun, kondisi pasar tidak hanya ditentukan oleh teori. Para ekonom dan analis juga harus mempertimbangkan berbagai risiko yang sedang terjadi, mulai dari ketidakpastian global, tekanan arus modal, sentimen investor, hingga respons kebijakan Bank Indonesia.
Dengan situasi global yang masih bergejolak, penguatan rupiah belum mudah terjadi. Investor cenderung lebih berhati-hati dalam menempatkan dana, terutama di negara berkembang yang rentan terhadap perubahan suku bunga global dan sentimen pasar.
Risiko Global Masih Menekan Rupiah
Tekanan terhadap rupiah masih dipengaruhi oleh sejumlah faktor eksternal. Ketidakpastian ekonomi global, tingginya suku bunga di beberapa negara besar, serta gejolak geopolitik membuat pasar keuangan bergerak lebih sensitif.
Dalam kondisi seperti ini, dolar AS biasanya menjadi pilihan utama investor karena dianggap lebih aman. Akibatnya, permintaan terhadap dolar meningkat dan menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Selain itu, arus modal asing juga menjadi perhatian. Jika investor memilih keluar dari pasar domestik, tekanan terhadap rupiah bisa semakin kuat. Karena itu, stabilitas kebijakan dan kepercayaan pasar menjadi faktor penting untuk menjaga nilai tukar.
Masyarakat Diminta Bijak Komentari Rupiah
Josua juga mengingatkan masyarakat agar lebih berhati-hati dalam menyampaikan komentar terkait pelemahan rupiah, terutama di media sosial. Menurutnya, pernyataan yang tidak didukung pemahaman memadai bisa menimbulkan kesalahpahaman.
Komentar yang berlebihan dapat memicu kepanikan dan membuat masyarakat ikut terbawa sentimen negatif. Dalam kondisi pasar yang sensitif, persepsi publik juga bisa memengaruhi psikologi investor dan pelaku ekonomi.
Karena itu, informasi mengenai nilai tukar sebaiknya dipahami secara utuh. Pelemahan rupiah tidak hanya disebabkan oleh faktor dalam negeri, tetapi juga oleh dinamika global yang sedang berlangsung.
Kebijakan BI Perlu Didukung Sinergi Pemerintah
Josua menegaskan bahwa kebijakan moneter Bank Indonesia tidak bisa bekerja sendirian. Menjaga stabilitas rupiah membutuhkan koordinasi yang kuat antara BI, pemerintah, dan otoritas sektor keuangan.
Menurutnya, sinergi kebijakan menjadi kunci penting dalam menjaga kepercayaan investor. Kebijakan yang terkoordinasi dengan baik biasanya mendapat respons positif dari lembaga pemeringkat maupun investor asing.
Koordinasi tersebut dapat mencakup kebijakan fiskal, pengendalian inflasi, stabilitas sistem keuangan, hingga langkah menjaga iklim investasi. Jika semua pihak bergerak searah, tekanan terhadap rupiah bisa lebih terkendali.
Langkah BI Dinilai Tepat Menjaga Pasar
Di sisi lain, Josua mengapresiasi langkah Bank Indonesia dalam menjaga ekspektasi pasar. Ia menilai kebijakan BI menaikkan suku bunga acuan atau BI-Rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 persen pada Mei 2026 sebagai langkah yang penting.
Menurutnya, keputusan tersebut membantu menekan premi risiko Indonesia dan memberikan sinyal bahwa BI serius menjaga stabilitas nilai tukar. Pasar membutuhkan respons kebijakan yang tegas agar kepercayaan investor tetap terjaga.
Josua bahkan menilai pasar bisa bereaksi lebih negatif jika BI tidak mengambil langkah tersebut. Dalam situasi penuh tekanan, investor biasanya menunggu kebijakan yang mampu memperbaiki ekspektasi dan mengurangi risiko.
Rupiah Masih Butuh Sentimen Positif
Agar rupiah bisa keluar dari tekanan, pasar membutuhkan kombinasi sentimen positif dari dalam dan luar negeri. Dari sisi domestik, stabilitas kebijakan, inflasi yang terkendali, dan koordinasi antarotoritas menjadi faktor penting.
Sementara dari sisi global, rupiah akan terbantu jika tekanan dolar AS mereda, suku bunga global mulai turun, dan ketegangan geopolitik berkurang. Tanpa perbaikan pada faktor-faktor tersebut, rupiah kemungkinan masih sulit menguat jauh dari level Rp 17.000.
Pelaku pasar juga akan terus memantau arah kebijakan Bank Indonesia, data ekonomi nasional, arus modal asing, serta perkembangan ekonomi global.