Ketegangan geopolitik kembali mencuri perhatian pasar global setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump disebut-sebut mulai mengarahkan fokus kebijakan luar negeri ke Iran sebagai target berikutnya. Langkah ini muncul di tengah serangkaian kebijakan keras AS terhadap negara-negara seperti Venezuela dan wacana penguasaan wilayah strategis lain, yang dipandang sebagian analis berpotensi mengubah dinamika energi dunia.

Situasi di Iran sendiri kian memanas seiring gelombang protes anti-pemerintah yang telah memasuki pekan ketiga, dipicu oleh lonjakan inflasi tajam dan krisis ekonomi yang cukup parah. Aksi tersebut berkembang menjadi demonstrasi luas menentang rezim yang berkuasa, menimbulkan respons keras dari aparat keamanan. Lembaga hak asasi manusia berbasis di AS melaporkan ratusan korban tewas akibat tindakan represif aparat dalam meredam protes tersebut.
Trump Isyaratkan Potensi Intervensi
Menanggapi krisis yang terjadi, Trump menggunakan platform Truth Social untuk menyampaikan pernyataan kontroversial bahwa Amerika Serikat akan “datang menyelamatkan” para demonstran Iran, sebuah ancaman yang langsung menarik perhatian pelaku pasar global. Pernyataan ini didukung oleh laporan bahwa pejabat Gedung Putih tengah mengajukan berbagai opsi respons terhadap Iran, termasuk kemungkinan tindakan militer, operasi siber, dan tekanan ekonomi.
Rencana tersebut masih dalam tahap pengkajian lanjutan, yang berarti kekhawatiran akan eskalasi konflik tetap tinggi. Bahkan pejabat AS dikabarkan sedang mengevaluasi “opsi kuat” sebagai respons atas tindakan pemerintah Iran terhadap para pengunjuk rasa.
Risiko Terhadap Pasar Minyak Global
Iran merupakan salah satu produsen minyak terbesar dunia, sehingga setiap potensi konflik dengan Amerika Serikat diperkirakan akan berdampak langsung pada harga energi global. Kekhawatiran gangguan produksi atau distribusi minyak Iran dapat menjadi pendorong kenaikan harga mentah karena pasar memprediksi pasokan terancam terganggu.
Sebagai contoh, dalam beberapa hari terakhir, harga minyak berhasil mencatat kenaikan mingguan seiring meningkatnya kekhawatiran geopolitik di Timur Tengah. Para analis mencatat bahwa protes di Iran memberi dorongan pada pasar minyak yang sebelumnya cukup stabil, karena risiko gangguan pasokan kembali menjadi perhatian utama.
Selain itu, jika konflik meluas dan mencakup wilayah seperti Selat Hormuz — jalur utama ekspor minyak dunia — dampaknya bisa menjadi jauh lebih signifikan. Selat ini menangani sekitar 18–19 juta barel per hari atau hampir 20% dari konsumsi minyak global. Gangguan di rute ini berpotensi menyebabkan lonjakan harga minyak yang tajam, seperti yang pernah terjadi pada ancaman penutupan selat di masa lalu.
Respon Iran dan Ancaman Balasan
Pemerintah Iran merespons keras kemungkinan intervensi AS. Ketua Parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, memperingatkan bahwa jika negaranya diserang, wilayah pendudukan seperti Israel serta pangkalan dan kapal militer Amerika Serikat akan menjadi target sah. Pernyataan semacam ini semakin memperkuat kekhawatiran pasar akan kemungkinan konflik yang lebih luas, yang bisa mengganggu stabilitas pasokan energi global.
Ancaman balasan dari Iran, termasuk potensi serangan terhadap aset militer AS atau sekutunya, dapat menambah ketidakpastian pasar. Risiko ini mendorong investor dan negara pengimpor energi untuk memantau dengan seksama perkembangan politik di Timur Tengah.
Geopolitik, Minyak, dan Masa Depan Pasar Energi
Situasi yang berkembang antara AS dan Iran menunjukkan betapa sensitifnya pasar minyak terhadap risiko geopolitik. Ketika produsen utama menghadapi ketidakstabilan internal dan ancaman intervensi eksternal, pasar merespon dengan cepat melalui kenaikan harga minyak mentah dan komoditas terkait. Kenaikan ini sering kali dipicu oleh ekspektasi gangguan pasokan, bukan realitas pasokan yang benar-benar terputus.
Untuk investor dan konsumen, dinamika ini menandakan pentingnya mempertimbangkan faktor geopolitik dalam perencanaan energi jangka panjang. Risiko seperti yang terjadi di Iran tidak hanya berdampak langsung pada harga minyak, tetapi juga pada kebijakan energi global secara keseluruhan, khususnya ketika melibatkan pemain besar seperti Amerika Serikat dan negara-negara di Timur Tengah.