
Nilai tukar rupiah kembali mengalami tekanan pada perdagangan Selasa pagi. Mata uang Garuda melemah di tengah meningkatnya ketidakpastian global, terutama akibat ketegangan geopolitik yang masih membayangi pasar keuangan dunia.
Pada perdagangan pagi, rupiah tercatat turun 54,50 poin atau sekitar 0,31 persen ke posisi Rp17.859 per dolar AS. Sebelumnya, rupiah berada di level Rp17.805 per dolar AS pada penutupan perdagangan terakhir.
Pelemahan ini menunjukkan bahwa tekanan terhadap rupiah belum mereda. Investor masih cenderung berhati-hati karena kondisi global dan domestik sama-sama memberi sentimen negatif terhadap pergerakan nilai tukar.
Konflik AS dan Iran Jadi Tekanan Utama
Analis Bank Woori Saudara, Rully Nova, menilai pelemahan rupiah masih dipengaruhi oleh ketidakpastian penyelesaian konflik antara Amerika Serikat dan Iran. Ketegangan tersebut membuat pasar global bergerak lebih sensitif.
Menurut Rully, kondisi geopolitik yang belum stabil mendorong indeks dolar AS kembali menguat mendekati level psikologis 100. Saat dolar AS menguat, mata uang negara berkembang seperti rupiah biasanya ikut tertekan.
Selain itu, konflik tersebut juga memunculkan ekspektasi kenaikan harga minyak dunia. Kenaikan harga energi dapat memberi tekanan tambahan bagi negara pengimpor minyak karena berpotensi meningkatkan beban biaya impor dan memengaruhi neraca perdagangan.
Rupiah Diperkirakan Bergerak di Rp17.800-Rp17.950
Rully memperkirakan rupiah masih berpotensi melemah pada perdagangan hari ini. Kisaran pergerakan rupiah diperkirakan berada di level Rp17.800 hingga Rp17.950 per dolar AS.
Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa ruang penguatan rupiah masih terbatas. Tekanan dari luar negeri, terutama penguatan dolar AS dan risiko geopolitik, masih menjadi faktor dominan yang membayangi pasar.
Jika sentimen negatif terus berlanjut, rupiah berpeluang mendekati level Rp17.900 per dolar AS. Namun, pergerakan nilai tukar tetap akan bergantung pada respons pasar terhadap perkembangan global dan kebijakan domestik.
Faktor Domestik Ikut Membatasi Rupiah
Selain tekanan global, kondisi dari dalam negeri juga ikut memengaruhi pergerakan rupiah. Rully menilai pasar masih mencermati sejumlah tantangan domestik, termasuk kondisi fiskal pemerintah dan arah kebijakan ekonomi.
Ketidakpastian kebijakan dapat membuat investor menahan diri untuk masuk ke pasar keuangan domestik. Jika kepercayaan investor menurun, tekanan terhadap rupiah bisa semakin terasa.
Selain itu, perkiraan tren inflasi yang masih berlanjut juga menjadi perhatian. Inflasi yang tinggi dapat memengaruhi daya beli masyarakat dan menambah beban ekonomi, sehingga turut menjadi faktor yang membatasi ruang penguatan rupiah.
Pelemahan Rupiah Berpotensi Berlanjut
Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, juga memperkirakan rupiah masih berisiko melemah. Menurutnya, tekanan muncul setelah Iran menyatakan menghentikan perundingan damai dengan Amerika Serikat.
Situasi semakin menjadi perhatian karena adanya rencana Iran untuk menutup Selat Hormuz. Jalur ini merupakan salah satu rute penting bagi distribusi energi global. Jika terganggu, pasokan minyak dunia bisa terkena dampak dan harga energi berpotensi meningkat.
Kondisi tersebut membuat pelaku pasar cenderung mencari aset yang dianggap lebih aman. Dolar AS biasanya menjadi pilihan utama saat ketidakpastian global meningkat, sehingga permintaannya naik dan menekan mata uang lain.
Dolar AS Menguat karena Data Manufaktur
Selain faktor geopolitik, penguatan dolar AS juga didukung oleh data manufaktur Amerika Serikat yang lebih baik dari perkiraan. Data ekonomi yang positif membuat dolar AS semakin kuat di pasar global.
Ketika ekonomi AS menunjukkan sinyal solid, investor biasanya semakin percaya terhadap dolar. Hal ini dapat membuat tekanan terhadap rupiah semakin besar, terutama jika sentimen domestik belum cukup kuat untuk menahan pelemahan.
Lukman memperkirakan rupiah bergerak di kisaran Rp17.800 hingga Rp17.900 per dolar AS. Artinya, risiko pelemahan masih terbuka jika tekanan eksternal belum mereda.
Investor Masih Menunggu Kepastian
Pasar saat ini masih menunggu perkembangan terbaru dari konflik geopolitik dan arah kebijakan ekonomi global. Setiap kabar terkait AS-Iran, harga minyak, maupun data ekonomi Amerika Serikat dapat memengaruhi pergerakan rupiah.
Dari sisi domestik, investor juga akan mencermati respons pemerintah dan Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar. Kebijakan yang jelas dan terkoordinasi dapat membantu menahan tekanan pasar.
Namun, selama ketidakpastian masih tinggi, rupiah kemungkinan masih sulit menguat secara signifikan dalam waktu dekat.