
Nilai tukar rupiah kembali mengalami tekanan berat terhadap dolar Amerika Serikat. Pada Jumat, 15 Mei 2026, rupiah sempat menyentuh level Rp 17.612 per dolar AS. Posisi tersebut disebut sebagai salah satu titik pelemahan terdalam rupiah sepanjang sejarah.
Pergerakan rupiah yang menembus level Rp 17.600 per dolar AS menjadi perhatian pasar keuangan. Kondisi ini menunjukkan bahwa tekanan terhadap mata uang Garuda masih cukup kuat, terutama di tengah ketidakpastian global yang belum mereda.
Berdasarkan pergerakan pasar pada Jumat pagi, rupiah sempat berada di level Rp 17.612 per dolar AS sebelum bergerak di kisaran Rp 17.579. Meski sempat sedikit berubah, posisi tersebut tetap menunjukkan bahwa rupiah masih berada dalam tekanan besar.
Faktor Global Jadi Pemicu Utama
Pelemahan rupiah kali ini dinilai lebih banyak dipengaruhi oleh faktor global. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah, terutama konflik antara Amerika Serikat dan Iran, membuat pasar keuangan dunia bergerak lebih hati-hati.
Dalam situasi penuh risiko, investor biasanya cenderung mencari aset yang dianggap lebih aman, termasuk dolar AS. Akibatnya, permintaan terhadap dolar meningkat dan menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Analis pasar uang sekaligus Presiden Direktur PT Doo Financial Futures, Ariston Tjendra, menyebut pelemahan rupiah ke level tersebut bisa dikatakan sebagai posisi terlemah sepanjang sejarah.
“Iya bisa dibilang terlemah sepanjang sejarah,” kata Ariston.
Harga Minyak Ikut Menambah Tekanan
Selain penguatan dolar AS, kenaikan harga minyak dunia juga ikut menjadi beban bagi rupiah. Konflik di Timur Tengah berpotensi mengganggu pasokan energi global, terutama jika ketegangan terus meluas dan berdampak pada jalur distribusi minyak.
Indonesia sebagai negara yang masih bergantung pada impor minyak tentu bisa merasakan dampaknya. Ketika harga minyak naik, kebutuhan dolar untuk membayar impor energi juga meningkat. Kondisi ini dapat menambah tekanan terhadap cadangan devisa dan nilai tukar rupiah.
Ariston menilai rupiah masih berpotensi tertekan selama konflik belum mereda dan harga minyak mentah bertahan di level tinggi.
“Selama gejolak Timur Tengah belum reda dengan kenaikan harga minyak mentah, rupiah masih dalam tekanan,” jelasnya.

Investor Mulai Lebih Berhati-Hati
Pelemahan rupiah juga dapat memengaruhi minat investor. Menurut Ariston, kondisi ini bisa memberi dampak berbeda terhadap pelaku usaha dan investor.
Bagi eksportir, pelemahan rupiah sebenarnya dapat memberi keuntungan karena harga barang Indonesia menjadi lebih kompetitif di pasar internasional. Produk ekspor bisa terlihat lebih murah bagi pembeli luar negeri.
Namun, bagi investor yang menargetkan pasar domestik Indonesia, situasi ini bisa membuat mereka lebih berhati-hati. Pelemahan mata uang dapat meningkatkan biaya impor, menekan margin bisnis, dan menambah ketidakpastian dalam perencanaan investasi.
“Harusnya bagus untuk eksportir, barang Indonesia semakin murah. Untuk investor pasar ekspor harusnya masih menarik. Tapi untuk investor yang menargetkan pasar Indonesia mungkin akan menahan diri,” ujar Ariston.
Rupiah Diprediksi Masih Bisa Melemah
Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, juga menilai bahwa level Rp 17.612 per dolar AS merupakan titik terlemah rupiah sejauh ini. Ia bahkan memperkirakan rupiah masih berpotensi melemah lebih dalam.
Menurut Ibrahim, jika tekanan global berlanjut, rupiah bisa bergerak menuju level Rp 18.000 per dolar AS. Prediksi ini muncul karena konflik AS dan Iran diperkirakan belum akan selesai dalam waktu dekat.
“Iya sementara terlemah. Bakal ke Rp 18.000 per dolar AS,” ucap Ibrahim.
Ia memperkirakan rupiah pada pekan berikutnya akan bergerak di kisaran Rp 17.450 hingga Rp 17.800 per dolar AS. Rentang tersebut menunjukkan bahwa volatilitas rupiah masih cukup tinggi dan pasar masih menunggu arah perkembangan geopolitik global.
Dolar AS Menguat di Tengah Ketidakpastian
Penguatan dolar AS menjadi salah satu faktor utama yang membuat rupiah semakin tertekan. Ketika situasi global tidak stabil, dolar biasanya menjadi pilihan utama investor karena dianggap lebih aman dibandingkan mata uang negara berkembang.
Perang yang memanas di Timur Tengah membuat indeks dolar AS cenderung menguat. Kondisi ini menekan banyak mata uang Asia, termasuk rupiah.
Jika ketegangan geopolitik terus meningkat, tekanan terhadap rupiah kemungkinan belum akan mereda. Pasar masih akan memantau perkembangan konflik, harga minyak, kebijakan bank sentral, serta respons pemerintah dan otoritas moneter dalam menjaga stabilitas nilai tukar.
Dampak Pelemahan Rupiah bagi Ekonomi
Pelemahan rupiah dapat berdampak pada berbagai sektor ekonomi. Salah satu dampak yang paling terasa adalah kenaikan biaya impor. Barang-barang yang dibeli dari luar negeri akan menjadi lebih mahal ketika dolar AS menguat.
Kenaikan biaya impor dapat memengaruhi harga bahan baku industri, energi, pangan tertentu, hingga barang konsumsi. Jika tekanan ini berlanjut, inflasi berpotensi ikut terdorong naik.
Di sisi lain, sektor ekspor bisa mendapat keuntungan karena produk Indonesia menjadi lebih murah bagi pasar luar negeri. Namun, manfaat ini tidak selalu merata, terutama bagi perusahaan yang masih bergantung pada bahan baku impor.
Pemerintah dan Bank Indonesia Perlu Jaga Stabilitas
Dalam situasi seperti ini, stabilitas nilai tukar menjadi perhatian penting. Pemerintah dan Bank Indonesia perlu menjaga kepercayaan pasar agar tekanan terhadap rupiah tidak semakin dalam.
Langkah yang bisa dilakukan antara lain menjaga pasokan valas, memperkuat komunikasi kebijakan, mengendalikan inflasi, serta memastikan fundamental ekonomi tetap kuat. Selain itu, menjaga iklim investasi juga penting agar aliran modal tidak keluar secara besar-besaran.
Pelaku pasar juga akan memperhatikan data ekonomi domestik, seperti neraca perdagangan, cadangan devisa, inflasi, dan kebijakan suku bunga. Semua faktor tersebut dapat memengaruhi arah rupiah dalam beberapa waktu ke depan.